Tampilkan postingan dengan label PKR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PKR. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Oktober 2013

Karakteristik Manajemen Kelas Rangkap

Karakterisktik Manajemen Kelas Rangkap
      Terdapat beberapa kriteria dalam manajemen kelas rangkap, antara lain adalah:
1  1.      Adanya penggabungan siswa yang berasal dari dua atau lebih tingkatan baik itu tingkatan kelas ataupun tingkatan usia.
   2.      Seorang guru ditugaskan untuk membelajarkan para siswa gabungan yang terdiri dari beberapa tingkatan kelas ataupun tingkatan usia.
   3.      Seorang guru melaksanakan tugas-tugas mengajarnya kepada para siswa gabungan secara serempak. Maksudnya adalah pemberian pembelajaran kepada siswa haruslah dilakukan secara serempak, namun bimbingan selanjutnya dilakukan oleh guru agar masing-masing siswa dapat memahami materi yang disampaikan. Namun bimbingan tersebut dilakukan dalam kelompok mereka masing-masing.

. 4. Siswa secara individual maupun di dalam kelompok (tingkatan) tetap dikondisikan oleh guru untuk tetap aktif belajar sekalipun guru sedang memberikan bimbingan kepada siswa pada tingkatan tertentu. Dan dengan cara itu siswa dapat belajar mandiri  baik dengan ataupun tanpa bimbingan guru.

Pengertian Manajemen Kelas Rangkap

Pengertian Manajemen Kelas Rangkap
Manajemen kelas rangkap pada dasarnya berangkat dari konsep manajemen kelas dengan konsep kelas rangkap. Kata manajemen kelas memiliki pengertian sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam rangka menciptakan dan mempertahankan organisasi kelas yang kondusif sehingga siswa dapat belajar dengan baik dan optimal. Sedangkan kelas rangkap memiliki pengertian sebagai sebuah kelas dimana di dalamnya terdapat penggabungan siswa yang memilki perbedaan usia, kemampuan, minat dan tingkatan kelas. Jadi dapat disimpulkan bahwa ”manajemen kelas rangkap ini mempunyai pengertian sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam rangka menciptakan dan mempertahankan organisasi kelas yang kondusif dimana di dalamnya terdapat penggabungan siswa yang memiliki perbedaan usia, kemampuan, minat, dan tingkatan kelas sehingga siswa dapat belajar dengan baik dan optimal.”
Dalam menajemen kelas rangkap terdapat konsep pembelajaran kelas rangkap. Pembelajaran kelas rangkap adalah penggabungan sekelompok siswa yang mempunyai perbedaan usia, kemampuan, minat, dan tingkatan kelas di mana dikelola oleh seorang guru atau beberapa guru yang dalam pembelajarannya difokuskan pada kemajuan individual para siswa .


Kelebihan Model Pengelolaan PKR

Kelebihan Model pengelolaan PKR
1       1.    MODEL 221 ( PKR INTI )
a.    Guru atau tim mengelola para siswa dari 2 tingkatan kelas yang berbeda, dengan fokus 2 mata pelajaran baik yang sama atau berbeda dalam 1 ruangan.
b.    Model ini bisa efektif apabila jumlah siswa yang terdiri dari 2 tingkatan kelas tersebut tidak terlalu banyak (maksimum 25 siswa untuk masing-masing tingkatan kelas) dengan suatu ruangan yang cukup luas.
c.    Dengan pembelajaran terpadu model terjala atau tema, guru bisa mengembangkan 2 mata pelajaran dengan topik yang sama atau berkaitan melalui sebuah tema yang menarik
2.    MODEL 222 ( PKR MODIFIKASI )
a.    Pengelolaan model 222 pembelajaran kelas rangkap dilakukan oleh tim guru sehingga bisa saling membantu.
b.    Guru atau dalam tim mengelola para siswa dari 2 tingkatan kelas yang berbeda, dengan fokus pada 2 mata pelajaran yang berbeda atau sama pada 2 ruangan kelas yang bersebelahan dan dihubungkan dengan adanya pintu.
c.    Guru mengelola dua kelas sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
3.    MODEL 333 ( PKR MODIFIKASI )
a.    Dalam model 333 guru mengelola tiga tingkatan kelas yang berbeda dengan tiga mata pelajaran yang sama atau berbeda dalam tiga ruangan secara bersamaan.
b.    Para siswa terkondisi untuk belajar secara indenpenden, karena para gurunya   mendidik mereka untuk mengembangkan sikap independen dan efisien dalam belajar.
c.    Berkembangnya perasaan bangga dalam diri para siswa karena mereka merasa lebih puas sekalipun sedikit mengalami friksi dalam kegiatan belajarnya di bandingkan para siswa sekelas yang hanya terdiri satu tingkatan.
d.    Peserta didik mengembangkan sikap positif tentang saling membantu sama yang lain.
e.    Para siswa yang belajar dalam kelas rangkap akan lebih berkembang dengan perpaduan antara strategi pembelajaran kelas rangkap, pembelajaran kooperatif, kelompok yang beragam, tugas-tugas yang menunjang perkembangan, pendekatan tutor multiusia, waktu yang luwes dan evaluasi yang positif








 
 

Kelemahan Model Pengelolaan PKR

Kelemahan Model Pengelolaan PKR
1         1.      MODEL 221 ( PKR INTI )
a.      Jika Siswa dalam 1 kelas jumlahnya lebih dari 25 siswa maka kelas PKR harus dibagi menjadi 2 kelas.
b.      Jika guru menggunkan model ini, guru harus menyiapkan dua kelas pembelajaran kelas rangkap model 221, dan memecah masing-masing dua tingkatan kelas yang akan dicampur menjadi 2 sehingga ruangan tidak terlalu penuh, dan akan mengakibatkan pembelajaran tidak efektif.
c.       karena ada 2 kelas pembelajaran kelas rangkap model 221 ini, maka guru yang harus mengelolanyapun harus dua orang guru atau dua tim guru.  
2         2.      MODEL 222 ( PKR MODIFIKASI )
a.      Model 222 lebih rumit dibandingkan dengan model 221, di mana guru harus mengelola dua kelas sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
b.      guru menunjuk para siswa yang lebih tua dan mempunyai kemampuan yang lebih dari siswa lainnya untuk membantu mengelola pembelajaran.
3.      MODEL 333 ( PKR MODIFIKASI )
a.      Untuk mengelola model 333 ini diperlukan tim guru paling tidak terdiri dari 2 orang guru.
b.      Keterbatasan berbagai sumber belajar untuk menunjang pelaksanaan pembelajaran terutama yang berupa buku-buku teks, bahan belajar yang lainnya dan alat bantu mengajar.
c.       Bisa saja siswa yang lebih muda merasa ditakut-takuti, atau dilampaui oleh teman sekelasnya yang lebih mampu, dan mereka menjadi sangat tergantung pada siswa yang lebih tua untuk memberikan pertolongan sedangkan untuk para siswa yang lebih tua mereka merasa tidak tertantang dan menjadi lebih berkuasa yang dibawahnya.





Kamis, 01 Agustus 2013

Karakteristik PKR

A.   Karakteristik Pembelajaran Kelas Rangkap
Terdapat lima karateristik PKR, antara lain :
1.      Karakteristik PKR dari segi guru ( One Teacher School )
Terdapat seorang guru dalam kelas PKR yang mengajar lebih dari satu tingkatan kelas. Hal yang perlu diperhatikan dalam PKR adalah guru tidak mengajar dua kelas terpisah secara bergantian dengan program yang berbeda. Selain itu, guru harus pandai memilih strategi pembelajaran karena strategi pembelajaran yang dipilih oleh guru harus disesuaikan dengan banyaknya jumlah murid dan dengan menggunakan kombinasi berbagai metode pembelajaran.
2.      Karakteristik PKR dari segi siswa ( Multi Ability/Multi Grade)
Dalam elas PKR terdapat lebih dari satu tingkatan kelas anak. Siswa dalam kelas PKR mempunyai perbedaan usia, kemampuan, dan minat.
3.      Karakteristik PKR dari segi mata pelajaran ( Multi Level Teaching)
Pembelajaran dilakukan secara tematik, namun untuk kompetensi – kompetensi tertentu yang tidak dapat diikat dengan tema tetap diajarkan secara terpisah.
4.      Karakteristik PKR dari segi interaksi edukatif (Educational Interaction)
Dalam PKR interaksi edukatif dapat tercipta melalui model PBMKS (Proses Belajar Melalui Kerjasama). Murid dapat memupuk rasa kerja sama dan saling membantu serta dapat bertukar informasi dan pengetahuan yang dimiliki. Selain itu, murid juga dapat berdiskusi untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.
5.      Karakreristik PKR dari segi lingkungan belajar (Learning Environment)
Dari segi lingkungan belajar guru harus kreatif dan inovatif dalam menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan dapat memotivasi siswa dalam belajar, yaitu dengan cara menata ruang kelas dengan rapi seperti letak meja, kursi, papan tulis, sumber belajar, tempat penyimpangan bahan dan alat serta pajangan kelas. Guru juga harus memanfaatkan hasil karya murid dengan cara dipajang di ruang kelas karena hal ini dapat meningkatkan karsa dan karya murid.

Aneka Model Interaksi PKR

A.  Aneka Model Interaksi dalam PKR
Terdapat dua model interaksi dalam PKR, antara lan :
1.      Proses Belajar Arahan Sendiri (PBAS)
Proses Belajar Arahan Sendiri (PBAS) merupakan model belajar mandiri yang bisa dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Belajar mandiri adalah belajar yang dilakukan atas dorongan dari dalam diri seseorang. Maksudnya murid belajar tanpa menunggu datangnya perintah dari guru. Peranan guru dalam model ini adalah sebagai pengarah dan pemberi kemudahan dalam belajar bagi murid.
Langkah – langkah model Proses Belajar Arahan Sendiri (PBAS) terdiri dari:
(a)    Penyeleksian
(b)   Pemahaman
(c)    Penguatan Ingatan
(d)   Penjabaran Lanjutan
(e)    Pengintegrasian
(f)    Pemantauan
2.      Proses Belajar Melalui Kerja Sama (PBMKS)
Proses Belajar Melalui Kerja Sama (PBMKS) terdiri dari delapan model, antara lain ;
(a)   Olah Pikir Sejoli (OPS)
Model ini terdiri dari empat tahap. Tahap pertama dan kedua mewadahi komunikasi satu arah, yaitu guru-murid. Tahap ketiga mewadahi komunikasi timbal balik dalam kelompok kecil dua orang sebagai persiapan komunikasi banyak arah padatahap keempat. Tujuan dari model ini adalah untuk membina komunikasi sosial dan kerja sama. Dalam model ini guru berperan sebagai moderator pengatur, dan pengelola kelas.
(b)   Olah Pikir Berebut (OPB)
Dalam model ini guru berperan sebagai penanya. Guru memberikan pertanyaan menyebar dan memiliki banyak alternatif jawaban dan murid secara individu diminta untuk berpikir kemudian memberi jawaban secara lisan. Tujuan model ini adalah melatih murid untuk berpikir dan berani mengemukakan pendapatnya. Peranan guru dalam model ini adalah sebagai penanya, moderator dan manager kelas.
(c)    Konsultasi Intra Kelompok (KIK)
Model ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan murid dan kebiasaan saling berbagi ide antara anggota kelompok. Selain itu, murid diajari untuk membuat kesepakatan mengenai satu hal tertentu bersama dengan anggota kelompoknya dan menuangkan hasil kesepakatan itu dengan cara menuliskan jawaban mereka dengan kata – kata sendiri.
(d)   Tutorial Teman Sebaya (TTS)
Tujuan dari model ini adalah membina sikap dan kebiasaan saling membantu antar teman sebaya sehingga dapat tercipta hubungan sosial yang baik antar sesame murid. Model ini terdiri dari empat tahap. Guru memilih murid yang memiliki kemampuan di atas rata – rata kemudian murid tersebut diberi tugas untuk membantu temannya dalam bidang tertentu. Selama proses tersebut guru bertugas untuk memantau muridnya. Jika sudah selesai guru harus memberikan penguatan kepada kedua murid tersebut agar mereka merasa senang dan termotivasi.
(e)    Tutorial Lintas Kelas (TIK)
Model ini pada dasarnya hampir sama dengan TTS, hanya saja model ini dilakukan secara lintas kelas, yaitu murid yang lebih tinggi tingkatan kelasnya dan memiliki kepandaian diberikan tugas oleh guru untuk membantu kelompok murid kelas dibawahnya. Contohnya, murid kelas VI membantu murid kelas V.
(f)    Diskusi Meja Bundar (DMB)
Model ini hampir sama dengan OPB, hanya saja dalam model oPB jawaban murid disampaikan secara lisan sedangkan dalam model DMB jawaban murid disampaikan secara tertulis dan dilakukan melalui kerja kelompok. Tujuan model ini adalah untuk mengembangkan keterampilan mengemukakan ide secara tertulis.
(g)   Tugas Diskusi dan Resitasi (TDR)
Model ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan akademik murid melalui proses kerja sama. Model ini merupakan perpaduan dari dua metode, yaitu metode pemberian tugas dan metode diskusi. Dalam model ini guru berperan sebagai manager kelas dan nara sumber.
(h)   Aktivitas Tugas Tertutup (ATTu) dan Aktivitas Tugas Terbuka (ATTa)

Kedua model in bertujuan untuk melatih keterampilan  berpikir kognitif dan komunikasi murid secara tertulis. Model ini memiliki ciri khas dalam sifat tugasnya, yaitu tugas tertutup berbentuk tugas yang hanya memerlukan satu jawaban benar sedangkan tugas terbuka berbentuk tugas yang menuntut hasil yang beraneka ragam, misalnya membuat karangan. Dalam model ini guru berperan sebagai nara sumber dan manager kelas.

Prinsip - Prinsip PKR

A.   Prinsip – Prinsip Pembelajaran Kelas Rangkap
Prinsip – prinsip yang mendasari Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) terbagi 2, yaitu prinsip umum dan prinsip khusus.
1.      Prinsip Umum
Ada 3 prinsip umum yang mendasari PKR, antara lain :
(a)    Perbedaan kemampuan individual murid yang harus diperhatikan guru.
Dalam hal ini guru berperan untuk mengakomodasi kebutuhan individu murid sebagai seorang yang unik dan membutuhkan perlakuan yang berbeda satu dengan yang lainnya untuk mampu mencapai perkembangan yang maksimum.
(b)   Membangkitkan motivasi belajar murid.
Sebagaimana kita ketahui bahwa motivasi sangat penting dimiliki oleh setiap murid dalam belajar. Motivasi mampu menjadi energi dan penyemangat yang dapat menggerakkan murid untuk belajar, yakni mengalami perubahan perilaku dari tidak tahu menjadi tahu. Oleh karana itu, guru PKR harus senantiasa memotivasi murid – muridnya untuk mau belajar baik dengan kehadiran gurunya maupun tanpa guru dengan belajar secara mandiri.
(c)    Belajar hanya terjadi jika murid aktif sehingga guru harus berusaha mengaktifkan murid.
Dalam proses belajar individulah yang aktif sehingga dalam PKR guru harus membiasakan muridnya belajar mandiri. Guru dapat menumbuhkan proses belajar mandiri dengan cara menciptakan iklim belajar yang baik, yaitu dengan suasana yang hangat, menyenangkan, dan menarik.
2.      Prinsip Khusus
Ada 4 prisip khusus dalam PKR, antara lain :
(a)   Keserempakan kegiatan pembelajaran
Dalam PKR kegiatan belajar mengajar terjadi secara serempak atau bersamaan. Kegiatan trsebut harus memiliki makna, artinya kegiatan itu harus sesuai dengan kebutuhan murid dan mempunyai tujuan yang sesuai dengan kurikulim.
(b)   Kadar Waktu Keaktifan Akademik (WKA)
Perlu kita ketahui bahwa kualitas dan lamanya kegiatan pembelajaran berlangsung menentukan tinggi rendahnya kadar Waktu Keaktifan Akademik (WKA). PKR tidak member toleransi pada banyaknya WKA yang hilang karena guru tidak terampil mengelola kelas. Oleh karena itu, guru PKR harus pandai – pandai dalam mengelola kelas karena guru mengajar lebih dari satu tingkatan kelas.
(c)    Kontak psikologis guru dan murid yang berkelanjutan
Guru PKR haru selalu berusaha menciptakan berbagai teknik atau cara untuk membangkitkan motivasi muridnya dalam belajar dan memberikan perhatian kepada muridnya. Kita ketahui bahwa guru PKR menghadapi dua kelas atau lebih pada saat yang bersamaan. Peran guru disini adalah mampu meyakinkan muridnya bahwa guru selalu berada bersama mereka. Oleh karana itu, guru PKR harus pandai melakukan tindakan pengelolaan, seperti menunjukkan sikap tanggap dan peka, mengatur tempat duduk, member petunjuk dengan jelas.
(d)   Pemanfaatan sumber secara efisien

Guru PKR harus pandai dalam memanfaatkan berbagai jenis sumber secara efisien. Seperti, lingkungan belajar dan segala peralatan yang ada di sekolah. Guru juga dapat menunjuk murid yang pandai sebagai tutor sebaya sehingga dapat menghasilkan Waktu Keaktifan Akademik yang tinggi (WKA).

Tujuan,Fungsi,dan manfaat PKR

A.   Tujuan, Fungsi, dan Manfaat PKR
Tujuan, fungsi, dan manfaat PKR dapat ditinjau dari 4 aspek, antara lain:
1.      Kuantiiti dan Ekutiti
Pembelajaran Kelas Rangkap memungkinkan kita untuk memenuhi asas kuantiti atau jumlah dan ekuiti atau pemerataan, yakni dengan cara mengoptimalkan sumber daya yang ada.
2.      Ekonomis
Dengan Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) satuan biaya pendidikan yang ditanggung oleh pemerintah dapat lebih diminimalkan. Karena dengan seorang guru saja atau beberapa guru saja proses pembelajaran tetap dapat berlangsung. Demikian juga halnya dengan  satu ruangan atau beberapa ruangan saja proses pembelajaran dapat berlangsung.
3.      Paedagogois
Dari segi paedagogis Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) mampu meningkatkan kemandirian murid dalam belajar sendiri. Guru dalam PKR berusaha membuat murid aktif dalam belajar dan memandirikan murid dalam belajar.
4.      Keamanan

Dengan menggunakan pendekatan Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR), pemerintah dapat mendirikan sekolah – sekolah di lokasi yang mudah dijangkau sehingga kekhawatiran orang tua kepada anaknya menjadi berkurang.

Senin, 15 April 2013

Hakikat PKR


HAKIKAT PEMBELAJARAN KELAS RANGKAP

       Pada dasarnya, Pembelajaran Kelas Rangkap adalah penggabungan sekelompok siswa yang mempunyai perbedaan usia, kemampuan, minat, dan tingkatan kelas, di mana dikelola oleh seorang guru atau beberapa guru yang dalam pembelajarannya difokuskan pada kemajuan individual para siswa (Franklin, 1967). Namun demikian selain definisi tersebut, ada sebagian praktisi pendidikan membedakan definisi dari multigrade dengan multiage karena perbedaan tujuannya. Seperti yang dikemukakan oleh Elkind (1987), bahwa istilah   multigrade di mana kelas yang berbentuk seperti itu akan berisi para siswa dari 2 atau lebih tingkatan kelas dengan satu guru di ruangan yang sama pada suatu waktu. Para siswa di kelas tersebut tetap menggunakan kurikulum yang spesifik untuk tingkatan kelasnya sendiri dan demikian pula dengan tingkat kesukaran tesnya pun disesuaikan dengan tingkatan kelas mereka. Dengan demikian, kelihatan bahwa kelas multigrade atau pembelajaran kelas rangkap model itu diadakan untuk alasan administrasi dan ekonomi. Seperti halnya yang terjadi di sekolah-sekolah daerah terpencil di Indonesia banyak guru yang merangkap kelas karena memang tidak ada tenaga guru bukan karena tujuan atau alasan pendidikan. Lain halnya dengan istilah multiageyang mengacu pada praktek pembelajaran kedua tingkatan usia dan kelas yang sengaja dicampur karena kepentingan tujuan pendidikan yang diinginkan.
    Dengan demikian, telah terjadi pergeseran penggunaan pembelajaran kelas rangkap yang ada di daerah terpencil hingga berkembang menjadi pembelajaran kelas rangkap yang dirancang secara sistematis untuk alasan peningkatan efektivitas pembelajaran di kelas. Bisa saja pembelajaran kelas rangkap yang dulu dilaksanakan masih berbentuk pengelolaan kelas tradisional di mana pengaturan tempat duduk seluruh siswa menghadap ke arah papan tulis di depan kelas, di mana guru dengan mudah dapat mengontrol seluruh siswanya. Namun demikian, seperti diutarakan di atas, karena adanya pergeseran pemikiran sehingga muncul bentuk-bentuk baru pembelajaran kelas rangkap, membuat pengaturan tempat duduk di kelas menyebar. Berikut salah satu contoh pengaturan tempat duduk pada Pembelajaran Kelas Rangkap.
 Lalu bagaimana dengan pengaturan pembelajaran kelas rangkap? Yates (2000) mengemukakan bahwa dengan pembelajaran kelas rangkap, di mana para siswa bisa tinggal di kelas dengan satu guru dalam lebih dari satu tahun, membuat hubungan antara para siswa, guru, dan orangtua menjadi dekat. Mereka mempunyai rasa percaya, rasa aman, dan enak satu dengan yang lain, sehingga proses pembelajaran dapat dilakukan dengan nyaman. Hal tersebut wajar, karena model pembelajaran kelas rangkap seperti itu di mana 2 atau 3 tingkatan ada dalam satu kelas dengan satu atau beberapa guru mengajar secara tim tidak mengenal istilah naik kelas atau tinggal kelas. Namun demikian, menurut Suryan (2000) ternyata pendekatan pembelajaran kelas rangkap bisa digunakan untuk kelas tradisional, di mana hanya terdapat pembelajaran satu tingkatan kelas saja. Hal ini disadari bahwa sebenarnya pada kelas tradisional, juga berisikan para siswa yang mempunyai berbagai tingkatan kemampuan dan mungkin usia, sehingga esensi pembelajaran kelas rangkap tetap dapat digunakan untuk kelas tradisional sehingga prinsip-prinsip pembelajaran kelas rangkap bisa diterapkan.
      Terdapat beberapa alasan kenapa terjadinya pembelajaran kelas rangkap. Djalil dan Wardani (1997) menguraikan dalam modulnya bahwa pembelajaran kelas rangkap diperlukan karena alasan geografis, demografis, kurangnya guru, terbatasnya ruang kelas, dan adanya ketidakhadiran guru di kelasnya karena sakit atau keperluan lainnya. Seperti juga yang dikemukakan Jones di atas, bahwa dahulunya pada sebelum tahun 1990-an, atau malahan bagi negara-negara seperti Indonesia, Mexico, India, bahkan Australia, masih banyak dijumpai sekolah yang hanya mempunyai satu atau dua kelas saja yang digunakan bersama-sama oleh para siswa dari berbagai tingkatan kelas. Hal ini disebabkan tempat tinggal para siswa yang berjauhan sehingga demi efesiensi, pemerintah tidak mungkin mendirikan sekolah yang hanya melayani beberapa siswa saja. Untuk itu didirikannya sekolah di suatu tempat dan siswa yang berjauhan datang ke sekolah itu, dengan guru yang bisa melayani sejumlah kecil siswa dari berbagai tingkatan kelas. Alasan lainnya, karena memang kesulitan mencari tenaga guru (tenaga guru kurang), sehingga pemerintah tidak bisa memenuhi kebutuhan para siswa di suatu daerah tertentu dengan rasio jumlah guru yang seimbang. Alasan-alasan yang dipaparkan itu mulai tidak dipakai lagi untuk mengelola pembelajaran kelas rangkap (terutama di negara Barat, sedangkan beberapa negara di Asia, Amerika latin, dan Indonesia hingga kini masih menggunakan alasan tersebut untuk adanya pembelajaran kelas rangkap).
      Seiring dengan adanya reformasi pada konsep-konsep pendidikan yang mendukung kepentingan perkembangan para siswa didik oleh para praktisi dan konseptor pendidikan, dikembangkanlah konsep-konsep baru tentang pelaksanaan pembelajaran kelas rangkap dengan berdasarkan pengembangan hasil riset untuk mencari alasan atau manfaat pendidikan yang dapat diambil dari penerapan pembelajaran kelas rangkap. Dengan makin terbukanya pemikiran para administrator dan pembaharu-pembaharu pendidikan untuk mengeksplorasi manfaat dari pendekatan pengelolaan kelas ini, maka ditemukan keuntungan pendidikan yang diperoleh dari pelaksanaan pembelajaran kelas rangkap. Ridgway dan Lawton (1969) mencatat bahwa, aspek utama dari manfaat penggunaan pembelajaran kelas rangkap ini adalah terbangunnya iklim kekeluargaan dalam kelas. Mereka menemukan dengan pembelajaran kelas rangkap, para siswa bisa lebih merasa nyaman dan mudah menerima perubahan kegiatan dan pengalaman yang diberikan guru. Dasar lainnya dari digunakannya pembelajaran kelas rangkap seperti yang diutarakan Anderson dan Pavan (1993) bahwa, filosofi dasar dari pembelajaran kelas rangkap adalah terakomodasinya kebutuhan individu siswa sebagai seorang yang unik dan membutuhkan perlakuan yang berbeda satu dengan lainnya untuk bisa mencapai perkembangan yang maksimum.